• Rabu, 5 Oktober 2022

Dea Sitorus: Karateka Milenial yang Punya Mimpi Jadi Atlet Internasional

- Rabu, 9 Februari 2022 | 17:59 WIB
dea
dea

Hosssssttttt, hosssssttttt ...

Helaan nafas tatkala memasang kuda-kuda tegap. Tak lama, tendangan mawashi geri menghujam tubuh lawan. Sang lawan, tumbang dan jatuh di atas matras biru.

Tampak, gadis belia menjulang di atas sang lawan yang tersungkur jatuh ke bawah. Aura bahagia terpancar saat ia dinyatakan menang oleh wasit.

Dea Destia Renata Sitorus atau Dea Sitorus baru saja mengalahkan lawannya tanpa ampun. Ia adalah Karateka asal Bumi Sebalo yang kerap wara wiri dalam berbagai ajang lomba. Padahal, usianya belum genap 17 tahun. Tapi soal prestasi, jangan ditanya. Dari gelar bergengsi lokal, nasional bahkan internasional sudah pernah ia cicipi.

Kisahnya menarik untuk dikulit, bagaimana ketangguhan remaja ini melawan segala rasa gugup saat berlaga.

Karateka Versi Milenial

Dea Destia Renata Sitorus. Biasa dipanggil Dea. Ia adalah atlet Karateka versi minileal yang lahir di Kota Bengkayang, pada 28 Desember 2005.

Bukan main-main, olahraga K

-
Dea Destia Renata Sitorus, Karateka Junior Bumi Sebalo belum genap 17 tahun tapi banjir prestasi. Ist

arate menjadi salah satu olahraga yang dipilihnya dalam meraih prestasi. Dalam sejarahnya, olahraga Karate kental dengan kaum Adam yang kental dengan adu kekerasan fisik.

Namun, hal itu tak menyulutkan keinginan Dea menjalani hobinya tersebut. Walaupun perempuan, ia berhasil membuktikan diri bahwa prestasi gemilang bisa ia raih. Bahkan, ia jadi salah satu Karateka junior andalan kebanggaan Kabupaten Bengkayang saat ini.

Tak ayal, baru menginjak usia 16 tahun ia telah berhasil memperoleh 74 medali dalam semua ajang turnamen sejak empat tahun terakhir.

Karateka junior ini bermukim di Kota Bengkayang. Ia anak tunggal. Ayahnya bernama Sabar Sitorus yang merupakan pekerja swasta dan ibunya Monica, salah satu ASN di Kabupaten Bengkayang.

Dengan posisi sebagai anak tunggal Dea sejatinya mendapat perhatian lebih, selayaknya anak tunggal pada umumnya.

Dea mulai Pendidikan TK Amkur Bengkayang di Tahun 2009-2010, kemudian pendidikan SD 04 Bengkayang di Tahun 2011. Kecintaannya terhadap olahraga Karate mulai tumbuh, semenjak dirinya pertama kali bertemu dengan sosok Ratih. Kakak kelasnya di bangku Sekolah Dasar (SD), yang merupakan atlet karate tempo itu.

"Semenjak saat itu. Saya ingin seperti Kak Ratih yang dapat berprestasi di bidang beladiri," ungkapnya.

Sejak saat melihat sosok Ratih, ia seperti tertantang untuk menjadi atlet Karateka. Niat ini ia utarakan kepada ayahnya. Kebetulan ayah Dea sendiri merupakan salah satu pelatih karate saat itu.

"Awalnya, bapak seperti tidak yakin, jika Dea bakal sungguh-sungguh untuk ikut karate. Beliau menganggap Dea hanya iseng saja sekali dua kali latihan," tambahnya.

Tetapi sejalannya waktu, hari demi hari ia latihan dengan ayahnya tersebut di Dojo. Saat Dea naik sabuk dari putih ke kuning, kuning ke hijau, dan saat hijau naik kebiru, hingga sabuk coklat berhasil dikenakan di pinggangnya.

Ia merasa tertantang untuk mengikuti segala macam turnamen yang digelar.

Pulang Tanpa Gelar 

Saat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Bengkayang. Ia mulai unjuk gigi. Beberapa pukulan cudancuke dan tendangan mawasigeri sangat akurat ia kuasai. Termasuk seni atau jurus kata yang kian hari mulai matang diperagakan.

Di Tahun 2017, tepatnya kelas 1 SMP. Di kejuaraan karate di Sanggau Kapuas, menjadi kejuaraan pertama ia lakoni. Pada saat itu dirinya belum dikenal dan baru pertama kali bertanding.

-
Untuk mewujudkan mimpinya, Dea Tekun berlatih meski di awal karir ia tak pulang bawa gelar. Ist

"Dea gugup dan gemetar. Hingga tak dapat membawa gelar, apalagi medali apapun ketika pulang ke rumah. Tapi ayah dan ibu selalu men-support Dea," ucapnya mengingat.

Namun pengalaman itu, tak membuatnya semakin lemah. Tetapi dijadikannya awal untuk memulai semuanya.

Bahkan ia terus berlatih dari pagi hinga sore hari. Berdua dengan ayahnya tersebut.

Terlebih saat itu katanya, akan ada pertandingan Bupati Cup 2 di bulan November.

Ia dan ayahnya mulai memasang target pada kejuaraan tersebut. Ia harus bisa menggondol piala dikategori kata (Jurus) dan komite (Laga).

"Puji Tuhan setelah latihan keras, Dea bisa mendapatkan 2 medali emas dari kejuaraan tersebut," pungkasnya.

Meski meraih medali, dan namanya mulai melambung. Ia tak berpuas diri. Justru membuatnya mengeraskan ikat pinggang dan semakin termotivasi untuk mendapatkan yg lebih dari prestasi tersebut.

Alhasil, di Tahun berikutnya 2018, ia mengikuti 02SN tingkat provinsi. Ia pun keluar meraih juara 2.

Apakah itu cukup? Tidak bagi Dea. Juara dua tersebut belum mengantarkan ambisinya tembus di tingkat nasional.

"Belum bisa tembus tingkat nasional, karena yang diambil hanya juara 1," terangnya sedih.

Ia terus berlatih seperti biasanya, dengan ditambah porsi latihan agar menjadi yang terbaik.

Tepat di Tahun 2019, ketika ia kelas 3 SMP. Ia kembali menunaikan balas dendam agar bisa ikut 02SN di tingkat provinsi dan menembus tingkat Nasional.

Berkat usaha kerasnya tersebut, ia berhasil juara di tingkat provinsi dan lolos tingkat nasional ke Semarang dari perwakilan karateka Kalbar.

"Namun, dalam ajang bergengsi tersebut ditingkat nasional, Dea gagal juara. Tetapi memberikan pengalaman yang luar biasa, mengingat usia Dea masih muda, jam terbang diperlukan," ungkapnya optimis.

Hingga kini di saat di bangku SMA, beberapa turnamen dalam waktu dekat akan ia lakoni. Termasuk Porprov dan pertandingan di Sintang Senentang Champion Cup.

Dukungan Penuh Orangtua

Selain Dea termotivasi kakak tingkatnya, tapi ia juga banyak terinspirasi atlet Karate dari sejumlah video-video yang sering ia tonton di channel YouTube.

“Saya lihat di YouTube, ada gadis Karate sangat keren. Meski bonyok pipi kiri dan kanan," ungkapnya mengenang.

Saat itu, ia mengaku nekat belajar karate, dan ikut latihan. Baik yang diadakan di sekolah maupun di luar sekolah.

-
Karena didukung orangtua, Dea makin optimis dan terus meraih prestasi. Ist

Pilihannya pun makin mantap. Ekstrakurikuler Karate ia masuki untuk mengukur sejauh mana semangatnya dalam olahraga bela diri ini. Sebagai gadis yang menyukai tantangan, pembuktian diri sangat penting bagi Dea. Meski sering jatuh bangun, tapi tak ada dalam kamusnya kata menyerah.

Perjalanan menjadi atlet itu tak melulu mulus. Banyak rintangan dan masalah. Baginya itu adalah bagian yang harus ia jalini. Jika tidak demikian, ia tak tahu sejauh mana semanat tandingnya.

Sang ayah, menganggap putrinya iseng semata. Sekedar ikut-ikutan latihan. Dirinya tak menyangka anak gadisnya itu memiliki bakat dan talenta yang mumpuni, akibat motivasi yang ia miliki.

Kemudian, ibunya pun merasa was-was. Tatkala mengetahui putrinya senang dan giat latihan pukulan keras dan jurus kata dalam olahraga tersebut.

"Ibu was-was dan prihatin. Takut Dea terluka dan cedera," katanya.

Katanya, untung sang ayah mendorong dan meyakinkan ibu, agar Dea dapat terus mengasah kemampuan diri. Sehingga dukungan penuh dari kedua orangtua ia dapatkan.

Tak hanya itu, pihak sekolahnya juga men-support Dea dalam berprestasi untuk mengikuti ajang bergengsi di tingkat sekolah. Salah satunya O2SN tingkat kabupaten, provinsi dan nasional.

Dirinya pun berpesan, menang itu bukan segalanya, dan kalah juga bukan akhir dari segalanya. Tetap terus berjuang. Terus tingkatkan kemampuan dan bakat yang dimiliki. Pesannya jangan cepat puas selagi masih ada peluang, menang di kesempatan berikutnya.

Kerja Keras Berujung Prestasi

Salah satu pertandingan yang paling berkesan terjadi tahun lalu. Tepatnya tahun 2020. Pertandingan tingkat nasional berlangsung di Kota Semarang. Meski dalam situasi pandemi, tak menghalangi Dea raih prestasi.

Selama pandemi, dirinya tetap terus latihan bersama sang ayah di kediamannya. Tak ada kata rehat sebelum tanding dilakukan. Itu prinsip Dea dan sang ayah.

-
Satu-satu, prestasi demi prestasi diraih Dea. Ketekunan membawa hasil. Ist

Hingga di moment itu ada beberapa kompetisi berhasil diikutinya, meski berbasis Virtual (Online). Seperti Kariti Cup, SBY Cup, Bekasi Open dan Jakarta Open.

Dirinya berhasil memenangkan pertandingan tersebut. Dengan membuat rekaman video lomba jurus kata OhanDai, AnanDai, dan Papuren.

Kemudian, untuk penjurian dan hasil pengumuman pemenang ditentukan melalui hasil video itu sendiri.

Beberapa kompetisi yang berhasil diraih anak tunggal tersebut diantaranya di tingkat nasional maupun tingkat Internasional. Salah satunya dapat medali emas di International Silent Knight Cup, kelas Kadet Putri dan nasional di Kariti Cup Kelas Junior Putri Medali Emas.

"Puji Tuhan di waktu Pandemi Covid-19 masih bisa menuai prestasi," ungkapnya.

Koleksi 74 Medali

Atlet Karate putri yang juga Siswi di SMA Negeri 1 Bengkayang ini juga menjadi satu diantara siswi berprestasi yang mendapatkan penghargaan diberikan langsung oleh Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis.

Penghargaan itu diberikan pada kegiatan peringatan HUT Pemkab Bengkayang ke 22, atas pencapaiannya mengharumkan nama Kabupaten Bengkayang hingga saat ini. Tentu ada rasa bangga di hati Dea.

-
Hingga saat ini, 74 medali meski belum genap 17 tahun. Ist

Atlet yang baru berusia 16 Tahun tersebut, baru di bangku kelas 2 SMA. Tapi, sudah berasil mengumpulkan 74 medali kemenangan berbagai turnamen Karateka di tingkat lokal, provinsi, nasional. Bahkan bisa jadi atlet internasional.

Ia menjadi satu diantaranya siswa yang berprestasi dipanggil ke depan tatkala penganugerahan siswa-siswi terbaik yang mengharumkan nama Kabupaten Bengkayang di luar, terutama di ajang dunia beladiri tersebut.

"Saya tak menyangka dapat penghargaan dari pemkab, ibu dan ayah juga terharu," tangisnya.

Dea juga berharap agar Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkayang lebih memperhatikan kembali para atlet berprestasi dan juga difasilitasi serta mendapat dukungan lebih dari pemerintah daerah kedepannya dalam pembinaan atlet. Terlebih atlet muda yang masih panjang jam terbangnya.

Permintaan Dea dan teman-teman atlet untuk diperhatikan tak terlalu muluk. Kesejahteraan ketika tak lagi memegang medali. Perjalanan Dea masih panjang. Akan ada banyak tantangan ke depan. Mimpinya tak hanya jadi atlet profesional tapi kariernya hingga internasional.

Namun, ia sadar butuh kerja keras dan usaha lebih lagi untuk mewujudkan mimpi kariernya. Dukungan keluarga hingga peeirnah snaat dibutuhkan untuk menunjang kariernya ke depan.

Ia percaya doa, kerja keras hingga kerjasama tim akan mampu muwujudkan apa yang jadi mimpinya. Tak mudah tapi tak ada kata tak mungkin. Selama masih bisa bergerak, ia akan terus berlatih dan berlatih. Jadi lebih baik, membanggakan dan punya karya yang bisa diingat. (Teguh Agung Baruna)

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Sosok Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe

Sabtu, 9 Juli 2022 | 11:58 WIB
X