• Sabtu, 25 Juni 2022

Bukittinggi, Tuan Rumah Literasi Kebencanaan Lewat Seni dan Budaya dari BNPB

- Senin, 16 Mei 2022 | 22:52 WIB
Tarian sebagai literasi penanggulangan bencana di Bukittingi, Mingkabau, Sabtu (14/5/2022). (BNPB)
Tarian sebagai literasi penanggulangan bencana di Bukittingi, Mingkabau, Sabtu (14/5/2022). (BNPB)

 

BUKITTINGGI, insidepontianak.com - Suara gandang tansa ditabuh. Irama talempong dan alunan saluang, menyelinap di antara deretan manusia yang berjejer mesra dalam naungan badar. Sementara itu, melodi dari jemari sang musikus, menari-nari di atas tuts akordeon serasa melengkapi nuansa. Memecah riuh akhir pekan di Alun Alun Jam Gadang, Sabtu (14/5/2022) malam. Cuaca Bukittinggi sedang cerah-cerahnya. Di antara gempita dan keramaian, purnama menyembul dari peraduan.

Dari balik layar, belasan pasang kaki penari menghentak tanah. Mengikuti tetaabuhan yang disenandungkan. Penari memulai aksi dengan memainkan kain putih. Menjelma bagai zirah yang diayunkan. Membentuk gelombang. Sebuah simbol gempa bumi, menghentak tanah dan mengguncang permukiman penduduk, di sebuah nagari di Bumi Minangkabau. Kain putih diisyaratkan dengan kesedihan, atas bencana yang menimpa.

Memasuki bagian ke dua, kain putih yang merefleksikan gelombang gempa bumi dan kesedihan, berganti dengan permainan payung kertas diputar-putar. Disatu-padukan membentuk setengah lingkaran, sebagai makna perlindungan. Pada bagian itu, para penari ingin menunjukkan, penanggulangan bencana harus ada kekuatan gotong-royong dari seluruh pihak. Saling menjaga, melengkapi dan melindungi.

Tarian sebagai literasi bencana di Bukittingi. (BNPB)
 

Tarian berjudul Tari Anak Nagari, dipentaskan sebagai simbol kebangkitan anak cucu Minangkabau dari peristiwa gempa bumi dahsyat. Seperti pernah terjadi pada 2009 silam. Anak Nagari selalu memegang teguh tatanan adat, sehingga sekeras apa pun musibah yang menempa, kesedihan tak dirasakan berlarut-larut. Semangat optimisme membuncah dalam menyongsong masa depan lebih baik.

Di lain babak, Galampuak Bagalombang dipentaskan dengan apik oleh kolaborasi antara Gastarana dengan mahasiswa ISI Padangpanjang. Galambuak ditapuak babunyi rampak, Galambuak jalan bagalombang, indak lakang dek paneh, indak lapuak dek hujan.

Begitu kebersamaan masyarakat Minangkabau menghadapi persoalan, termasuk bencana yang datang. Hidup kekerabatan di Minangkabau sangat kuat. Memegang teguh ikatan adat.

Makna kebersamaan itu dieratkan dengan bentuk gotong-royong. Ibarat pepatah Minangkabau, Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Yang berarti, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Hal itu sebagaimana konsep penanggulangan bencana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana. Bahwa, bencana merupakan urusan bersama, dan diselenggarakan secara gotong-royong.

Halaman:

Editor: Muhlis Suhaeri

Sumber: BNPB

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kepala BNPB Tinjau Penanganan PMK di Jatim

Sabtu, 25 Juni 2022 | 14:24 WIB
X