• Sabtu, 21 Mei 2022

Jembatan Gantung Simpay Asih dari Yayasan Buddha Tzu Chi Bikin Warga Tak Khawatir Sungai Citarum Meluap

- Rabu, 11 Mei 2022 | 17:27 WIB
Jembatan Gantung Simpay Asih Berdiri Kokoh di Atas Sungai Citarum Dengan Pemandangan Indah (Bisnisbandung.com / Budi Hartati)
Jembatan Gantung Simpay Asih Berdiri Kokoh di Atas Sungai Citarum Dengan Pemandangan Indah (Bisnisbandung.com / Budi Hartati)

KABUPATEN BANDUNG, insidepontianak.com - Acep, warga Kabupaten Bandung merasa tak khawatir lagi akan bayang-bayang di desanya akan diterjang banjir dari Sungai Citarum sejak hadirnya pembangunan Jembatan Gantung Simpay Asih dari dana donasi Yayasan Buddha Tzu Chi.

Jembatan Gantung Simpay Asih dibangun permanen dari donasi Yayasan Buddha Tzu Chi. Jembatan ini menghubungkan dua desa, menjadi solusi bagi warga desa selama ini aksesnya terputus. Yang paling dihindari oleh warga, begitu banjir bandang dari Sungai Citarum menerjang. Akses infrasturktur sama sekali tidak ada.

Jembatan Gantung Simpay Asih dari donasi Yayasan Buddha Tzu Chi dibangun dari besi sepanjang 70 meter dengan lebar 1,2 meter menghubungkan Desa Resmitinggal, Kecamatan Kertasari dan Desa Sukarame, Kecamatan Pacet. Jembatan ini dianggap mampu menahan banjir dari Sungai Citarum.

Baca Juga: Jembatan di Desa Lulang Bengkayang Roboh Diterjang Banjir, Warga Gotong-royong Perbaiki

Padahal jauh sebelum itu, warga sebenarnya sudah beberapa kali membuat jembatan gantung tapi dengan fisik semi permanen, alias bahan bangunan menggunakan bambu. Hasilnya mengecewakan. Fisik bangunan jembatan cepat hancur.

"Sudah nggak kehitung, buat lalu rusak diterjang banjir bandang. Sebelumnya juga ada rumah yang hanyut," ujar Acep, warga Desa Sukarame, Selasa (10/5/2022).

Menurut Acep, warga sudah lama mendambakan kehadiran jembatan gantung yang menghubungkan dua desa. Sebagai masyarakat mayoritas petani, jembatan kokoh sangat berguna untuk membawa hasil panen dan meningkatkan konektivitas wilayah sebagai jalan umum seperti anak sekolah.

"Alhamdulillah, manfaat banget. Hatur nuhun," katanya.

Iis Komala, warga lainnya mengatakan jika jembatan rusak, warga harus mengambil jalan memutar desa yang jaraknya sekitar 3 kilometer. Sehingga dengan adanya jembatan permanen, keresahan warga kini sudah hilang.

"Sekarang bolak-balik pakai jembatan, deket tidak capek. Kahartos pisan!" ujarnya.

Halaman:

Editor: Agus Wahyuni

Sumber: Pemprovjabar.go.id

Tags

Terkini

X