• Minggu, 26 Juni 2022

FOTLU, May Day, Hari Buruh Sedunia dan Sejarah Perjuangan Buruh

- Minggu, 1 Mei 2022 | 11:23 WIB
Buruh perempuan sedang mengangkut bibit sawit pada sebuah perkebunan sawit. (Candra Apriansyah)
Buruh perempuan sedang mengangkut bibit sawit pada sebuah perkebunan sawit. (Candra Apriansyah)

PONTIANAK, insidepontianak.com - Hari Buruh Sedunia atau May Day setiap tahun diperingati di seluruh dunia setiap tanggal 1 Mei. May Day memiliki sejarah perjuangan buruh yang panjang. May Day pertama kali diproklamirkan, tak lepas dari Federation of Organized Trades and Labor Unions (FOTLU) di Amerika Serikat.

May Day atau Hari Buruh Sedunia tak lepas dari tuntutan dan sejarah perjuangan buruh, untuk kehidupan lebih baik. Yaitu, minta jam kerja maksimal 8 jam. Awalnya, jam kerja buruh rata-rata 10-16 jam kerja sehari. Kondisi itu membuat buruh sakit dan meninggal. FOTLU merespon hal itu.

Pada tahun berikutnya, organisasi buruh terbesar di Amerika Serikat, Knights of Labor mendukung pernyataan FOTLU. Mereka mengerahkan buruh untuk mogok kerja dan berdemontrasi. Pada 1 Mei 1886, lebih dari 300 ribu pekerja dari 13 ribu perusahaan di seluruh negeri, turun ke jalan untuk menuntut haknya. Pemogokan pun terjadi. Hampir 100 ribu buruh mogok kerja. Ini menjadi sejarah perjuangan buruh secara akbar.

Baca Juga: Hari Buruh Internasional atau May Day 2022, Yuks Pasang Link Twibbon

Aksi protes berlangsung damai pada awalnya. Namun, situasi berubah pada 3 Mei 1886, ketika aparat Kepolisian Chicago terlibat bentrok dengan para buruh di McCormick Reaper Works. Empat buruh tewas saat memperjuangkan haknya, seperti dikutip dari website Forum Mahasiswa Bidikmisi Universitas Negeri Malang (Formadiksi UM).

Keesokan harinya, aksi demo kembali digelar di Haymarket Square, terutama untuk memprotes para pekerja yang tewas dan terluka akibat insiden tersebut.

Orasi August Spies yang berapi-api mereda, ketika sekelompok aparat datang untuk membubarkan demonstrasi. Namun, saat polisi mendekat, seseorang yang tak diketahui identitasnya melempar bom ke arah barisan petugas. Setelahnya, kekacauan pun terjadi. Setidaknya tujuh polisi dan delapan warga sipil tewas.

Pada Agustus 1886, delapan orang yang dicap sebagai anarkis dihukum dalam sidang yang berlangsung secara sensasional dan kontroversial. Meskipun tidak ada bukti kuat yang mengaitkan para terdakwa dengan insiden pengeboman. Para juri dituduh punya kaitan dengan kekuatan bisnis besar.

Baca Juga: May Day di Tengah Covid-19, Pemda Mati Akal Digempur PHK Massal

Halaman:

Editor: Muhlis Suhaeri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Banjir di Muara Enim Rendam Ratusan Rumah Warga

Minggu, 26 Juni 2022 | 11:58 WIB
X