• Rabu, 7 Desember 2022

Anggota DPR Yessy Melania Dorong Kementan Dampingi Pemilik Walet di Kalbar Bisa Mudah Ekspor ke China

- Senin, 12 September 2022 | 14:56 WIB
Anggota Komisi IV DPR RI Yessy Melania (dpr.go.id)
Anggota Komisi IV DPR RI Yessy Melania (dpr.go.id)

Anggota DPR RI Komisi IV Yessy Melania mendorong Kementerian Pertanian untuk memberikan keberpihakan kepada pengusaha sarang burung walet di Kalimantan Barat, khususnya.

Anggota DPR RI Komisi IV, Yessy Melania menyebutkan, keberpihakan Kementerian Pertanian yang dimaksud, adalah bagaimana pemerintah bisa mempermudah izin ekspor sarang burung walet di daerah Kalimantan Barat, khususnya bagi pengusaha pribadi alias masyarakat yang memiliki rumah walet.

Anggota DPR RI Komisi IV Yessy Melania mengatakan, selama ini, khusus di Kalimantan Barat, ekspor sarang burung walet belum terdata dengan baik.

Politisi Nasdem ini menyebutkan, selama ini Kalimantan Barat, merupakan daerah pemilihannya, dikenal sebagai daerah penghasil sarang burung walet, mulai dari Kota Pontianak, Kabupaten Kapuas Hulu, Singkawang, Sambas, Sintang dan lainnya.
Kebanyakan dari mereka yang memiliki rumah sarang burung walet dikelola oleh personal.

“Di sini, Kementan melalui Dirjen terkait bisa membuat regulasi ke daerah-daerah, penghasil sarang walet, didodong dan didata. Kalau perlu, mereka yang mengelola secara sertifikasi. Supaya mereka gampang bisa ekspor, “ kata Yessy Melania, pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) melalui Channel Youtube parlementeria, kemarin.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo menyebutkan tren ekspor sarang burung walet menunjukan peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir.

Rumah dari burung walet atau Collocalia sp. ini dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan dan banyak dihasilkan di pulau Jawa, Kalimantan hingga Sulawesi.

Sebagai informasi, dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST Badan Karantina Pertanian (Barantan) tercatat bahwa selama masa pagebluk Covid 19, jumlah ekspor SBW sebanyak 1.155 ton dengan nilai Rp. 28,9 triliun atau meningkat 2,13% dari pencapaian di tahun 2019 yang hanya sebanyak 1.131,2 senilai Rp 28,3 triliun saja.

Baca Juga: Dewan Sambas Minta Pemda Tertibkan Bangunan Sarang Walet Tak Berizin

Saat ini, sarang walet yang diperdagangkan merupakan komoditas binaan dari Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH),Kementan untuk produktivitasnya. Sementara untuk pendampingan eksportasi mulai dari harmonisasi aturan dan persyaratan teknis sanitasi negara tujuan dan bimbingan teknis sanitari dan keamanan pangan, food safetynya dilakukan oleh Barantan.

Dan tercatat sebanyak 262 ton atau 23% dari total ekspor SBW RI dibeli oleh Cina. Sebagai pengekspor walet terbesar didunia, para pelaku usaha RI banyak menyasar pasar Cina karena harga jual yang lebih tinggi dibandingkan negara tujuan lain, yakni antara Rp 25 juta hingga Rp 40 juta per kilo.

Namun dengan harga yang lebih tinggi ini, secara khusus Cina juga mempersyaratkan ketentuan registasi bagi tempat pemroses sarang walet disamping pemenuhan persyaratan teknis tentunya.

Baca Juga: Terekam CCTV, Pencuri Sarang Walet Berhasil Diringkus

Tapi perlu diingat, saat ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendorong Pemerintah Daerah untuk melakukan perbaikan di sektor tata niaga sarang burung walet (SBW) dalam upaya pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi melalui optimalisasi penerimaan negara dan daerah.

Halaman:

Editor: Agus Wahyuni

Sumber: Youtube

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X