• Sabtu, 21 Mei 2022

Presiden Jokowi Serukan Penghentian Perang di Ukraina

- Sabtu, 14 Mei 2022 | 17:38 WIB
Presiden Jokowi menghadiri KTT Khusus ASEAN-AS, di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Washington DC, Jumat (13/05/2022).  (BPMI Setpres/Laily Rachev)
Presiden Jokowi menghadiri KTT Khusus ASEAN-AS, di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Washington DC, Jumat (13/05/2022). (BPMI Setpres/Laily Rachev)

WASHINGTON, insidepontianak.com - Presiden Jokowi menyerukan perang berhenti di Ukraina. Presiden Jokowi tegaskan sikap itu saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus ASEAN AS di Departemen Luar Negeri AS, Washington DC, Jumat (13/5/2022).

Presiden Jokowi tegaskan, perang menciptakan tragedi kemanusiaan dan memperburuk perekonomian dunia. Kenaikan harga pangan, energi dan inflasi. Kondisi itu memperburuk ekonomi dan memperlambat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs di negara berkembang dan kurang berkembang.

“Saat dunia seharusnya segera pulih dari pandemi Covid 19, dunia menghadapi masalah baru, perang di Ukraina. Saat dunia membutuhkan kerja sama dan kolaborasi, justru rivalitas dan konfrontasi makin menajam. Saat dunia membutuhkan multilateralisme yang makin kokoh, justru unilateralisme makin mengemuka,” ujar Presiden Jokowi.

Baca Juga: Presiden Jokowi Tegaskan Penguatan Kemitraan ASEAN AS Demi Atasi Pandemi di Masa Depan

Presiden Jokowi menegaskan, perang di Ukraina telah melemahkan multilateralisme, dan berpotensi memecah belah hubungan antar negara.

“Perang tidak akan menguntungkan siapa pun. Dunia tidak memiliki pilihan lain, kecuali menghentikan perang sekarang juga. Setiap negara, setiap pemimpin memiliki tanggung jawab untuk menciptakan enabling environment agar perang dapat dihentikan, perdamaian dapat terwujud,” tegas Presiden Jokowi.

Pertumbuhan ekonomi, menurut Presiden Jokowi, juga memprihatinkan. Dana Moneter Internasional atau IMF menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi di emerging and developing Asia sebesar 0,5 persen pada 2022 dan 0,2 persen pada 2023. Dan Bank Dunia menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi beberapa negara ASEAN hingga 1,2 persen.

“Bagi sebagian anggota ASEAN, kenaikan 10 persen dari harga minyak akan berdampak menurunnya pendapatan nasional sebesar 0,7 persen dan kenaikan harga gandum akan mengakibatkan peningkatan kemiskinan sebesar 1 persen,” jelas Presiden Jokowi.

Baca Juga: Presiden Jokowi Tegaskan Stabilitas dan Kemakmuran Kawasan Penting, Saat Ketemu Kongres AS

Halaman:

Editor: Muhlis Suhaeri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X