• Selasa, 17 Mei 2022

Alpukat di Indonesia Jadi Buah Mahal di Austalia Justru Dianggap Limbah karena Harga Jual Murah

- Kamis, 12 Mei 2022 | 14:21 WIB
Kelebihan pasokan alpukat berarti sekarang lebih murah bagi petani untuk membuangnya daripada mencoba peruntungan di pasar ekspor. (Jan De Lai/ABC)
Kelebihan pasokan alpukat berarti sekarang lebih murah bagi petani untuk membuangnya daripada mencoba peruntungan di pasar ekspor. (Jan De Lai/ABC)

AUSTRALIA, insidepontianak.com – Jika di Indonesia buah alpukat menjadi komoditi unggulan untuk ekspor. Bahkan buah ini dijual mahal oleh pedagang tanah air. Ternyata tidak berlaku di Australia.

Kabar terbaru, alpukat di Australia justru dibiarkan bertumpuk dan membusuk hingga berton-ton. Padahal jika di Indonesia, pedagang menjual alpukat Rp 35-40 ribu per kilogram. Harga beda lagi jika ekspor ke Malaysia. Kisaran Rp 70-100 ribu.

Tapi bagi petani di Australia, ternyata sekarang alpukat di pasaran murah. Untuk mengembalikan harga alpukat menjadi mahal, petani sengaja memanen alpukat dan membiarkan alpukat miliknya membusuk, sebelum harga kembali normal. Kondisi itu terjadi di ujung utara Queensland.

Ketua FNQ Growers dan petani Mareeba Joe Moro mengatakan membiarkan produk matang membusuk seringkali merupakan keputusan paling ekonomis bagi petani karena berbagai alasan,

"Mereka menanamnya untuk dikirim ke pasar dan ingin menempatkan produk terbaik yang mereka bisa ke piring dan meskipun petani telah membuat keputusan komersial untuk membuang buah itu masih akan menjadi keputusan yang sangat emosional bagi mereka,” kata Mareeba Joe Moro, dikutip insidepontianak dari abc.net.au.

Baca Juga: Yummi! Coba Resep Pao Alpukat Lembut nan Menggoda Ini

Sementara beberapa pengguna media sosial dengan cepat menyarankan petani harus menyumbangkan buah, Moro mengatakan bahkan membuangnya mahal.

"Harus mempekerjakan orang untuk memetik buah, mengemudikan truk di sana, membuang produk di sana, jadi ada biaya lain yang akan ditanggung petani," katanya.

Mr Moro mengatakan masalah kelebihan pasokan datang di atas peningkatan biaya input, termasuk pupuk, bahan kimia, dan bahan bakar.

Petani alpukat lain yang berbasis di Tablelands, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan kepada ABC bahwa dia kadang-kadang membuang produk karena tidak memenuhi standar dan dia tidak ingin buah berkualitas buruk di pasar dengan namanya di atasnya.

Halaman:

Editor: Agus Wahyuni

Sumber: abc.net.au

Tags

Terkini

Tiga Negara Ini Mau Bentuk NATO di Asia Pasifik

Kamis, 12 Mei 2022 | 19:31 WIB
X