• Minggu, 25 September 2022

Ciptakan Kualitas Tumbuh Kembang Bayi, AIMI Kalbar Gandeng Kader Posyandu Gencarkan Sosialisasi PMBA

- Kamis, 30 Juni 2022 | 14:40 WIB
Sosialisasi PMBA oleh kader posyandu bekerjasama dengan AIMI Kalbar
Sosialisasi PMBA oleh kader posyandu bekerjasama dengan AIMI Kalbar

PONTIANAK, insidepontianak.com - Pemberian Makan Bayi dan Anak atau PMBA diharapkan mampu meningkatkan tumbuh kembang dan kualitas balita di Kota Pontianak.

PBMA adalah program yang digagas oleh Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Daerah Kalimantan Barat dengan menggandeng kader posyandu di beberapa kecamatan di Kota Pontianak.

Koordinator Program Kampung PMBA yang juga menjabat sebagai Ketua AIMI Kalbar, Aditya Galih Mastika menjelaskan bahwa program sosialisasi PMBA ini sudah mulai di jajaki AIMI Kalbar sejak tahun 2019 sebagai upaya penanggulangan stunting di wilayah Kalbar umumnya dan Kota Pontianak khususnya sebagai salah satu kota dengan predikat Kota Layak Anak.

Baca Juga: Link Nonton Melur untuk Firdaus Episode 21 Sub Indonesia, Firdaus Siap Menceraikan Melur dan Memilih Dee?

Program pertama kali diluncurkan di wilayah Kecamatan Pontianak Selatan, AIMI Kalbar bekerjasama dengan UPT Puskesmas Pontianak Selatan menggandeng kader-kader posyandu di wilayah binaan puskesmas tersebut.

Hasilnya, sudah ada 15 posyandu di wilayah UPT Puskesmas Kecamatan Pontianak Selatan yang menjadi patner kerja.

Mulai pertengahan tahun 2022 ini, AIMI Kalbar kembali menggandeng dua UPT Puskesmas yakni Puskesmas Karya Mulya Kecamatan Pontianak Kota dan UPT Puskesmas Perum I di Kecamatan Pontianak Barat. Dengan enam posyandu binaan dari dua puskesmas tersebut.

Program sosialisasi PMBA tersebut dimulai selama 21 hari kedepan. Hal ini sebagai upaya untuk mengubah pola pikir dan kebiasaan masyarakat dalam pemberian makan anak. Sehingga tercipta suatu adaptasi kebiasaan baru dari pembelajaran PMBA yang diberikan oleh AIMI Kalbar. Dengan begitu, penuntasan dan keberhasilan program penanggulangan stunting di wilayah Kota Pontianak dapat segera terwujud.

Berdasar hasil penelitian tahun 2018, Indonesia termasuk salah satu dari 17 negara dari 117 negara dengan masalah gizi tinggi pada balita. Dalam penanggulangannya, 1000 hari pertama kehidupan menjadi periode emas, periode kritis serta periode sensitive masa tumbuh kembang manusia. Untuk itulah 1000 hari pertama kehidupan dimulai sejak hamil hingga usia 2 tahun dijadikan sebagai waktu terbaik untuk perbaikan.

Penanganan masalah gizi merupakan upaya lintas sektor untuk mengatasi penyebab langsung, tidak langsung, dan akar masalah melalui upaya intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

Halaman:

Editor: Wati Susilawati

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Kenali Penyakit Jantung Bawaan Melalui Gejalanya

Jumat, 23 September 2022 | 07:45 WIB

Awas, Sembelit Dapat Sebabkan Kanker Usus

Jumat, 23 September 2022 | 07:15 WIB

Mau Umur Lebih Panjang? Lakukan 6 Kebiasaan Ini

Rabu, 14 September 2022 | 15:32 WIB
X