• Jumat, 12 Agustus 2022

Stunting dan Anemia Masih Tinggi, Penelitian SEANUTS II: Terutama Kawasan Jawa dan Sumatera

- Rabu, 22 Juni 2022 | 07:10 WIB
Ilustrasi: Infografis Stunting. (Bonsernews.com/setkab.go.id/Kemenkes)
Ilustrasi: Infografis Stunting. (Bonsernews.com/setkab.go.id/Kemenkes)

JAKARTA, insidepontianak.com – Kawasan Jawa dan Sumatera menurut penelitian terbaru South East Asian Nutrition Surveys kedua (SEANUTS II) mencatat prevalensi anak stunting dan anemia masih tinggi.

"Kita lihat status gizi anak yang umurnya masih di bawah 5 tahun (daerah Jawa dan Sumatra), ternyata masih tetap tinggi prevalensi stunting-nya. Jadi untuk stunting masih tinggi di atas 20 persen, dan laki-laki lebih tinggi angkanya dari perempuan," kata Dr. dr. Dian Novita Chandra, M.Gizi selaku Peneliti SEANUTS II Indonesia di Jakarta Selatan, Selasa.

Jika dilihat berdasarkan area tempat tinggal, angka stunting di pedesaan lebih tinggi dibanding di kota. "Di desa 3,6 dan di kota 20,6," kata Dian Novita Chandra.

Baca Juga: Ilmuwan Sembuhkan Serangan Jantung pada Tikus dengan Regenerasi Sel Otot

Menurut hasil dari penelitian SEANUTS II ini, hal tersebut terjadi juga karena masih belum terpenuhinya rata-rata asupan vitamin dan mineral yang direkomendasikan untuk tumbuh kembang yang sehat.

Kata Dian Novita Chandra, secara keseluruhan, SEANUTS II menunjukkan bahwa permasalahan anak stunting atau berperawakan pendek dan anemia masih ada, terutama pada anak-anak usia dini. Namun, untuk anak yang berusia lebih tua, tingkat prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas lebih tinggi dari pada stunting.

Temuan lain juga menunjukkan bahwa aktivitas fisik harian anak usia sekolah ternyata belum mencapai tingkat kecukupan sedang yang direkomendasikan. Padahal, tingkat kecukupan aktivitas fisik harian akan memengaruhi kebugaran jasmani yang jauh akan berperan pada tahapan tumbuh kembang seorang anak.

Tak hanya itu, sebagian besar anak-anak juga tidak memenuhi kebutuhan rata-rata asupan kalsium dan Vitamin D. Hasil pengecekan biokimia darah juga menunjukkan adanya ketidakcukupan Vitamin D pada sebagian besar anak.

"Kami harapkan data temuan yang dihasilkan SEANUTS II dapat menjadi acuan tenaga medis, pemerintah, bahkan orang tua untuk menanggulangi masalah malnutrisi di Indonesia," kata Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, SpA(K) selaku peneliti utama SEANUTS II dan Guru Besar Fakultas Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UI.

"Studi ini menunjukkan bahwa permasalahan stunted atau perawakan pendek, anemia, asupan makanan, aktivitas fisik anak dan kebugaran jasmani terkait kesehatan, perlu mendapat perhatian yang serius dari berbagai pihak," pungkas Rini Sekartini.

Halaman:

Editor: Wati Susilawati

Sumber: ANTARA

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X