• Rabu, 30 November 2022

Dampak Perang dan Krisis Geopolitik Global terhadap Ketahanan Pangan

- Senin, 1 Agustus 2022 | 17:35 WIB
Sejumlah alat berat digunakan untuk memanen gandum di ladang di wilayah Rostov, Rusia, Kamis (7/7/2022). Rusia merupakan salah satu negara penghasil gandum terbesar di dunia. ( ANTARA FOTO/REUTERS/Sergey Pivovarov/rwa.)
Sejumlah alat berat digunakan untuk memanen gandum di ladang di wilayah Rostov, Rusia, Kamis (7/7/2022). Rusia merupakan salah satu negara penghasil gandum terbesar di dunia. ( ANTARA FOTO/REUTERS/Sergey Pivovarov/rwa.)

JAKARTA, insidepontianak.com - Invasi Rusia ke Ukraina yang dilancarkan sejak 24 Februari 2022 telah memberikan dampak luar biasa terhadap perekonomian banyak negara, terutama terhadap ketahanan pangan global.

Potensi krisis pangan tampak nyata mengingat bahwa kedua negara merupakan pemain utama dalam perdagangan hasil-hasil pertanian.

Data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menyebutkan bahwa Rusia merupakan penghasil 11 persen gandum dunia. Sementara Ukraina menyumbang 3 persen dalam perdagangan gandum dunia pada 2021.

Baca Juga: Dewan Senayan: Ketua MPR RI Bambang Soesatyo Pertanyakan ASN Masih Terima Bansos

Banyak negara, terutama di Afrika, Eropa Timur, dan Asia Tengah bergantung pada impor bahan pangan dari kedua negara. Rusia dan Ukraina bahkan memasok sampai 80 persen kebutuhan gandum di Kenya, Somalia, Ethiopia, Armenia, Mongolia, Azerbaijan, dan beberapa negara lainnya.

Perang yang disertai blokade di pelabuhan Ukraina di Laut Hitam juga menyebabkan negara itu tidak mampu mengekspor produk pertaniannya ke negara lain. Sanksi negara Barat ke Rusia turut andil dalam memperparah kondisi pasokan pangan dunia.

Sebagai balasan, Rusia mengurangi atau menghentikan ekspor komoditas yang dibutuhkan banyak negara, di antaranya gas alam ke negara-negara Eropa.

Baca Juga: Info Saham: Ditopang Laporan Laba Perusahaan yang Kuat, Saham Tokyo Ditutup Lebih Tinggi

FAO memprediksi harga pangan dan pakan ternak akan naik 8-22 persen serta jumlah orang yang mengalami kekurangan gizi juga bertambah 8 juta hingga 13 juta dibandingkan kondisi saat ini jika konflik tersebut terus berlanjut.

Halaman:

Editor: Muhlis Suhaeri

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X