• Rabu, 5 Oktober 2022

Mendirikan Partai Berbasis Islam dan Semangat Meraih Kejayaan Masa Lalu

- Minggu, 12 Juni 2022 | 20:15 WIB
Ilustrasi rencana Pemilu dan Pilkada 2024. ( ANTARA/ilustrator/Kliwon)
Ilustrasi rencana Pemilu dan Pilkada 2024. ( ANTARA/ilustrator/Kliwon)

SEMARANG, insidepontianak.com - Girah atau semangat mendirikan partai berbasis massa Islam, hingga saat ini belum redup. Kejayaan Masyumi pada Pemilu 1955, mungkin masih jadi pijakan yang menggoda bagi sejumlah politikus masa kini.

Pemilu 1955, yang disebut banyak kalangan berlangsung sangat demokratis, hanya menempatkan Masyumi di posisi kedua di bawah PNI. Namun, kala itu perolehan suara empat partai teratas saling berimpitan. PNI meraih 8,4 juta suara, Masyumi (7,9 juta), Partai NU (6,96 juta), dan PKI menangguk 6,18 juta suara.

Dengan selisih perolehan seperti itu, tidak mengherankan sering terjadi pertarungan sengit di parlemen, terutama Masyumi dengan PKI, hingga akhirnya partai bernama lengkap Majelis Syura Muslimin Indonesia ini dibubarkan pada tanggal 17 Agustus 1960.

Pergantian kekuasaan dari Soekarno kepada Presiden HM Soeharto tidak memberi angin pada Masyumi. Masyumi jelas tidak mungkin ikut Pemilu 1971 karena sudah dibubarkan.

Kendati demikian, ada yang mencoba mereinkarnasi. Sejumlah aktivis Masyumi mendirikan Parmusi (Partai Muslimin Indonesia) untuk ikut Pemilu 1971.

Sayangnya, impian mengulang kejayaan Masyumi pada masa lalu jauh dari kenyataan. Parmusi hanya di posisi keempat dengan raihan 2,9 juta suara, jauh di bawah Golkar, Partai NU, dan PNI.

Golkar, yang kala itu tidak menyebut dirinya partai politik, menyapu mutlak surat suara dengan menangguk 34,35 juta pemilih atau nyaris setara dengan 63 persen dalam pemilu yang diikuti 10 partai pada Pemilu 1971.

Pemilu pada masa awal rezim Orde Baru tersebut memang dinilai tidak demokratis karena terjadi mobilisasi masif dari suprastruktur kekuasaan hingga aparat level terbawah.

Setelah Golkar sukses menguasai parlemen, pemilu demi pemilu di bawah rezim Orde Baru tak lebih dari lipstik demokrasi. Golkar selalu juara dengan kemenangan sangat mutlak hingga Pemilu 1997. PPP dan PDI (belum Perjuangan) harus menyamankan diri di posisi kedua dan ketiga.

Halaman:

Editor: Muhlis Suhaeri

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Benarkah Indonesia Dijajah 350 Tahun?

Kamis, 4 Agustus 2022 | 20:10 WIB

Investasi Menjanjikan dari Limbah Sabut Kelapa

Rabu, 15 Juni 2022 | 16:52 WIB

Menumbuhkan Rasa Cinta Tanah Air pada Anak

Rabu, 11 Mei 2022 | 12:54 WIB

Islam, Pluralisme dan Multikulturalisme

Kamis, 5 Mei 2022 | 08:34 WIB

Dubes Ukraina, Apa Anda Paham Etika Diplomasi?

Selasa, 8 Maret 2022 | 15:59 WIB
X