• Sabtu, 1 Oktober 2022

Sri Mulyani Sebut 50 Miliar Dolar Modal Asing Kabur dari Obligasi Pasar Berkembang

- Kamis, 11 Agustus 2022 | 17:31 WIB
 Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: APBN KITA Agustus 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (11/08/2022).  (Antara)
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: APBN KITA Agustus 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (11/08/2022). (Antara)


JAKARTA, insidepontianak.com - Menteri Keuangan atau Menkeu Sri Mulyani menyebutkan dana modal asing bersih sebesar 50 miliar dolar AS atau setara Rp738 triliun keluar dari pasar obligasi negara-negara emerging market, termasuk Indonesia, sejak Januari hingga 10 Agustus 2022.

"Dengan volatilitas dan penguatan dolar AS, terjadi aliran modal asing keluar dan kita lihat untuk Indonesia juga menghadapi sama dengan emerging market atau pasar berkembang," kata Menkeu Sri Mulyani dalam Konferensi Pers: APBN KITA Agustus 2022 yang dipantau secara daring di Jakarta, Kamis (11/8/2022).

Sri Mulyani menjelaskan keluarnya modal asing dari negara-negara pasar berkembang tentunya akan meningkatkan imbal hasil atau yield serta biaya dana atau cost of fund dari negera-negara tersebut.

Untuk Indonesia sendiri, kata Sri Mulyani, aliran modal asing yang keluar dari pasar obligasi Tanah Air tercatat mencapai Rp69 triliun sejak Januari sampai Agustus 2022, yang mempengaruhi yield dari Surat Berharga Negara atau SBN RI.

Baca Juga: BI: Aliran Modal Asing Keluar dari Indonesia Capai 2,1 Miliar Dolar AS Per 29 Juli

Namun Sri Mulyani mengungkapkan lantaran SBN Indonesia yang dipegang oleh asing saat ini hanya memiliki porsi 15,57 persen, pengaruh modal asing keluar menjadi relatif bisa diminimalkan, meski tetap terpengaruh. Adapun perbankan dan Bank Indonesia masih mendominasi kepemilikan surat utang negara saat ini.

Jika dibandingkan dengan tahun 2019 saat asing masih memegang 38 persen SBN RI, dampak guncangan aliran modal asing keluar akan jauh lebih besar. Dengan demikian, pendalaman pasar keuangan sangat diperlukan untuk stabilisasi pasar keuangan di Tanah Air.

"Makin banyak orang Indonesia yang berinvestasi SBN, pasar keuangan domestik semakin dalam dan tebal sehingga kalau terjadi guncangan seperti sekarang maka guncangan itu relatif tidak menimbulkan gelombang yang besar bagi instrumen keuangan kita. Ini pekerjaan rumah yang akan terus dilakukan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan," kata Sri Mulyani.

Di sisi lain Sri Mulyani mengatakan spread atau jarak SBN RI dengan obligasi AS relatif terjaga di level 433 basis poin (bps)atau semakin menyempit dibandingkan pada awal tahun 2022 yang sebesar 473 bps, di tengah pasar keuangan yang volatil.

Baca Juga: Pekan Ini Aliran Modal Asing Masuk Rp4,60 Triliun ke Indonesia

Editor: Haksoro

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

CMI Salurkan Bantuan untuk Masyarakat Prasejahtera

Rabu, 28 September 2022 | 18:27 WIB

PLN Batalkan Program Kompor Listrik, Ini Alasannya

Selasa, 27 September 2022 | 23:43 WIB
X