• Rabu, 10 Agustus 2022

Sri Mulyani: Ekonomi Tumbuh 5,44 Persen Menempatkan Indonesia di Posisi Baik

- Jumat, 5 Agustus 2022 | 21:34 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Soft Launching Buku: Keeping Indonesia Safe from Covid-19 di Jakarta, Jumat (5/8/2022).  (Antara)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam acara Soft Launching Buku: Keeping Indonesia Safe from Covid-19 di Jakarta, Jumat (5/8/2022). (Antara)


JAKARTA, insidepontianak.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan realisasi ekonomi nasional pada kuartal II 2022 yang tumbuh 5,44 persen (yoy) telah menempatkan Indonesia di posisi yang baik di tengah banyak negara sedang mengalami tekanan.

“Kalau kita lihat hari ini Indonesia relatively in a good position kita bisa mendapatkan growth 5,44 persen dengan inflasi relatif stabil,” kata Sri Mulyani dalam acara Soft Launching Buku: Keeping Indonesia Safe from Covid-19 di Jakarta, Jumat (5/8/2022).

Sri Mulyani menuturkan Indonesia dalam posisi yang baik dengan artian memiliki demand dan supply yang tetap terjaga dan inflasi yang tertahan berkat pemberian subsidi oleh pemerintah.

Menurut Sri Mulyani, hal tersebut merupakan pencapaian yang positif mengingat inflasi di negara lain sudah sangat tinggi sedangkan pemulihan dari sisi suplai belum terlalu besar sehingga pertumbuhannya tidak terlalu tinggi.

Negara lain tertekan karena kebijakan fiskal dan moneter oleh bank sentral baik Amerika Serikat maupun Eropa sangat ekspansif hingga membuat pemulihan demand sangat besar namun suplai tertinggal yang pada akhirnya menyebabkan inflasi.

Baca Juga: Sri Mulyani: Faktor Eksternal Jadi Tantangan Ekonomi Indonesia ke Depan

“Demand dan supply (Indonesia) terjaga, inflasi tertahan karena kita memberi subsidi. Ekspor dan konsumsi yang supporting ini dengan suplai yang responsif jadi kita bisa mendapatkan growth 5,4 persen dengan inflasi relatif stabil,” jelas Sri Mulyani.

Sri Mulyani melanjutkan, pertumbuhan ekonomi nasional juga didukung oleh pertumbuhan positif dari konsumsi rumah tangga dan ekspor meski ternyata konsumsi pemerintah mengalami kontraksi.

Sri Mulyani menuturkan konsumsi pemerintah yang terkontraksi dua kuartal berturut-turut bukan karena ukuran dari defisit anggaran mengecil melainkan kemampuan untuk membelanjakan atau mengeluarkannya yang masih sangat terbatas.

“Ini yang kita pahami. Makanya kalau kita akan menambah belanja dengan kapasitas to spend dan quality spending kita harus hati-hati untuk tidak menggunakan fiskal yang ekspansi atau sembrono,” tegas Sri Mulyani.

Baca Juga: Sri Mulyani: Kinerja Positif APBN Jadi Modal untuk Antisipasi Dampak Gejolak Global

Editor: Haksoro

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X