• Rabu, 30 November 2022

Data Manufaktur Lemah, Harga Minyak Mentah Dunia Tergelincir 4,73 Dolar AS

- Selasa, 2 Agustus 2022 | 16:23 WIB
Ilustrasi harga minyak dunia turun.  (Antara)
Ilustrasi harga minyak dunia turun. (Antara)


NEW YORK, insidepontianak.com – Harga minyak mentah dunia jatuh 4,73 dolar AS atau sekitar 4,8 persen pada akhir perdagangan Senin waktu New York atau pada Selasa (2/8/2022) pagi.

Melemahnya harga minyak dunia ini setelah data manufaktur yang lemah di beberapa negara memperlemah prospek permintaan ketika investor bersiap untuk pertemuan OPEC dan sekutu produsennya mengenai pasokan minggu ini.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September tergelincir 4,73 dolar AS atau 4,8 persen, menjadi menetap di 93,89 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange, setelah mencapai level terendah sesi di 92,42 dolar AS per barel.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Oktober merosot 3,94 dolar AS atau 3,8 persen, menjadi ditutup pada 100,03 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange, setelah menyentuh terendah sesi di 99,09 dolar AS per barel.

Reaksi pasar di atas muncul setelah data yang lemah dari ekonomi-ekonomi utama memicu kekhawatiran bahwa perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan membahayakan permintaan energi.

Pabrik-pabrik di seluruh Amerika Serikat, Eropa dan Asia berjuang untuk momentum pada Juli karena lesunya permintaan global dan pembatasan ketat Covid-19 China memperlambat produksi, survei menunjukkan pada Senin (1/8/2022), kemungkinan menambah kekhawatiran ekonomi meluncur ke dalam resesi.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Dunia Bervariasi di Tengah Kekhawatiran Resesi

Indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur terakhir S&P Global untuk zona euro turun di bawah angka penting 50 pada Juli menjadi 49,8, dari 52,1 pada Juni, data menunjukkan pada Senin (1/8).

Di tempat lain, Institute for Supply Management (ISM) mengatakan pada Senin (1/8) bahwa ukuran aktivitas manufaktur AS yang diawasi ketat turun menjadi 52,8 persen pada Juli dari 53 persen sebulan sebelumnya. Sementara angka di atas 50 persen menunjukkan ekspansi, data terbaru adalah yang terendah sejak Juni 2020.

"Masih ada keterputusan dengan data ekonomi dan apa yang kami lihat di sisi penawaran," kata Phil Flynn, seorang analis di grup Price Futures. "Pasar minyak masih sangat ketat, dan pasar akan gelisah menjelang pertemuan OPEC Plus."

Juga membebani harga adalah kenaikan produksi minyak Libya, yang mencapai 1,2 juta barel per hari, naik dari 800.000 barel per hari pada 22 Juli, setelah pencabutan blokade pada beberapa fasilitas minyak.

Sementara itu, pedagang mengalihkan pandangan mereka ke Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang secara kolektif dikenal sebagai OPEC+, karena kelompok tersebut diperkirakan akan bertemu akhir pekan ini untuk membahas strategi produksi di masa depan.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Terangkat 5 Dolar karena Pelemahan Dolar AS dan Pasokan Ketat

Editor: Haksoro

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

BI Resmi Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25 Persen

Kamis, 17 November 2022 | 18:56 WIB

EBT Jadi Energi Masa Depan, PLN Siap Perkuat Smart Grid

Minggu, 13 November 2022 | 17:48 WIB
X