• Senin, 8 Agustus 2022

Presiden Jokowi Ajak Negara G7 Kembangkan Ekosistem Mobil Listrik di Indonesia

- Senin, 27 Juni 2022 | 20:50 WIB
Presiden Joko Widodo tiba di lokasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Schloss Elmau, Jerman, disambut oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz pada Senin (27/6/2022) siang.  (Antara )
Presiden Joko Widodo tiba di lokasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Schloss Elmau, Jerman, disambut oleh Kanselir Jerman Olaf Scholz pada Senin (27/6/2022) siang. (Antara )

JAKARTA, insidepontianak.com - Presiden Joko Widodo mengajak negara-negara anggota G7 untuk memanfaatkan peluang investasi di sektor energi bersih Indonesia, termasuk pengembangan ekosistem mobil listrik dan baterai litium.

Ajakan untuk memanfaatkan peluang investasi energi bersih, termasuk pengembangan ekosistem mobil listrik dan baterai litium itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri KTT G7 sesi working lunch dengan topik perubahan iklim, energi, dan kesehatan di Elmau, Jerman, Senin (27/6/2022).

"Terutama peluang investasi di sektor energi bersih di Indonesia, termasuk pengembangan ekosistem mobil listrik dan baterai litium," kata Presiden dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.

Menurut Presiden, potensi Indonesia sebagai kontributor energi bersih, baik di dalam perut bumi, di darat maupun laut, sangat besar.

Baca Juga: Presiden Jokowi Tiba di Jerman Hadiri KTT G7

Di sisi lain, Indonesia membutuhkan investasi besar dan teknologi rendah karbon seperti mobil listrik untuk mendukung transisi menuju energi bersih yang cepat dan efektif.

Kepala Negara menyebutkan bahwa Indonesia membutuhkan setidaknya 25-30 miliar dolar AS untuk transisi energi selama delapan tahun ke depan.

"Transisi ini bisa kita optimalkan sebagai motor pertumbuhan ekonomi, membuka peluang bisnis, dan membuka lapangan kerja baru," kata Presiden Jokowi.

Presiden juga menyampaikan bahwa risiko perubahan iklim sangat nyata apalagi Indonesia adalah negara kepulauan dengan 17.000 pulau, begitu juga dengan negara-negara berkembang lainnya.

Risiko tersebut bukan hanya mengganggu kesehatan, tetapi juga membuat petani dan nelayan dalam kesulitan.

Halaman:

Editor: Haksoro

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X