• Senin, 8 Agustus 2022

Bank Indonesia: Risiko Stagflasi Global Akan Bayangi Ekonomi RI

- Senin, 27 Juni 2022 | 15:15 WIB
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (tengah) dalam Rapat Kerja Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Jakarta, Senin (27/06/2022).  (Antara)
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti (tengah) dalam Rapat Kerja Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Jakarta, Senin (27/06/2022). (Antara)


JAKARTA, insidepontianak.com - Bank Indonesia (BI) mengingatkan risiko stagflasi global masih akan membayangi ekonomi Indonesia ke depan, meskipun telah banyak pemeringkat internasional yakin dengan pertumbuhan ekonomi di Tanah Air, salah satunya S&P Global Ratings yang baru saja menaikkan peringkat proyeksi ekonomi Indonesia dari negatif ke stabil.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti dalam Rapat Kerja Badan Anggaran Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di Jakarta, Senin (27/6/2022) mengatakan, pihaknya melihat situasi global ini masih sangat rentan sekali sehingga memang asumsi makro Indonesia masih sangat rentan.

Ia menegaskan Bank Indonesia sendiri akan sangat berfokus kepada inflasi yang tahun ini kemungkinan akan melewati target dua persen sampai empat persen di tahun 2022, yakni di atas empat persen.

Namun, inflasi akan kembali ke target pada tahun 2023 yakni dalam rentang dua persen sampai empat persen.

Baca Juga: Ekonom: Keputusan Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan Sudah Tepat

Oleh karena itu, Bank Indonesia akan terus mewaspadai tekanan inflasi ke depan, khususnya dari inflasi harga bergejolak dan dampak pada ekspektasi inflasi.

"Dalam hal ini kami akan gunakan seluruh kebijakan yang kami miliki, termasuk penyesuaian suku bunga apabila terdapat tanda-tanda kenaikan inflasi inti," tuturnya.

Destry mengatakan saat ini inflasi inti masih berada dalam kisaran 3,6 persen dan Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dengan pemerintah melalui Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Selain itu, fokus bank sentral lainnya saat ini adalah nilai tukar rupiah yang saat ini sedang mengalami tekanan cukup tinggi.

Kendati kini terdepresiasi, dirinya memperkirakan tekanan kurs Garuda pada tahun 2023 akan lebih reda didukung kondisi fundamental dalam negeri, defisit transaksi berjalan yang lebih relatif kecil tahun 2022 dan 2023, cadangan devisa yang masih kuat, serta prospek perekonomian yang tetap baik.

Adapun kebijakan Bank Indonesia ke depan adalah akan terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai bekerjanya mekanisme pasar dan fundamental dari kurs Garuda tersebut untuk mendukung upaya pengendalian inflasi dan makro ekonomi.

Baca Juga: Bank Indonesia Berpartisipasi dalam Kerja Sama Renminbi Liquidity Arrangement

Editor: Haksoro

Sumber: Antara

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X