• Senin, 27 Juni 2022

Nadja

- Minggu, 26 Januari 2020 | 13:26 WIB
nadja
nadja

oleh: Mardian Sagian


 

Nadja menghantuiku.

Saat itu, aku mendapat kabar dari ayahnya bahwa ia sudah meninggal. Kecelakaan, ungkap ayahnya murung lewat telepon. Sebelumnya, sempat beberapa kali aku coba menghubungi Nadja untuk sekadar berbagi kabar dan cerita. Teleponnya tidak tersambung. Satu-satunya yang terpikir dan bisa kuhubungi dan kutanya adalah ayahnya.

Kecelakaan? Bagaima––aku tercekat dan merasa percuma. Sebelum aku menikah dengan Antoni, dia adalah satu-satunya temanku. Setelah menikah dan Antoni memutuskan untuk tinggal di kota yang jauh dan menyeberangi laut, aku jarang menghubunginya. Pelan-pelan melupakannya. Dua belas, tiga belas tahun lalu.

Dengan nada pedih, ayah Nadja menyampaikan berita tadi dan berinisiatif mengirimkan beberapa barang pribadinya untukku. “Buku-buku koleksinya. Paman tahu kalian teman baik dan sering membahas soal buku.” Aku ingin mengiyakan namun terlalu syok untuk bersuara.

Beberapa minggu kemudian, paket tersebut sampai. Satu kardus ukuran televisi 21 inci. Aku biarkan paket tadi mengendap hampir dua minggu di gudang rumahku. Entahlah, bukan aku tidak menaruh minat pada buku dan sastra—aku tahu selera bacaan temanku itu: berat dan serius––melainkan karena buku-buku tadi adalah milik teman yang membuatku merasa gagal menjadi temannya. Beberapa waktu di gudang, aku berharap ia menjelma Nadja, bagaimanapun caranya, pikirku putus asa dan bodoh. Setelah butuh kesiapan membukanya, aku melihat kumpulan Albert Camus, Sartre, Nietzsche, novel-novel Amerika mulai dari klasik D.H.Lawrence hingga kontemporer. Ada koleksi Virginia Woolf––dia pernah bilang, karya-karya Woolf sungguh terkoneksi dengannya.  Juga banyak kutemukan Yukio Mishima dan Haruki Murakami. Ada satu novel lusuh karya Sylvia Plath, The Bell Jar––sampul dog ear lecek, punggung tertekuk, banyak garis-bawah, jejak stabilo, dan catatan pinggir pada isinya. Demi Tuhan, betapa aku merindukan mendiskusikan soal itu semua bersamanya. Kenangan masa-masa kuliah di jurusan sastra beberapa tahun silam.

Dan, ada sebuah buku yang begitu asing di antara buku-buku tadi. Buku tersebut bersampul seorang gadis dengan posisi menyamping, berambut bob tebal, efek sepia. Sebuah foto yang entah mengapa mengingatkanku satu potret Sylvia Plath. Jilidan buku tersebut terkesan amatiran dan kurang profesional.

Nadja begitulah judulnya dengan huruf kapital dan tegas. Di bawah judul tertera keterangan (Sebuah Jurnal) dengan ukuran huruf yang dua kali lebih kecil dari judul.

Aku membuka halaman satu. Sebuah foto. Seorang gadis mungil di pangkuan perempuan tiga puluhan dengan latar belakang pantai dengan tebaran perahu layar dan matahari menggantung jauh di tengah-ujung laut. Foto liburan. Sepia lagi.

Di halaman dua, ditulis dengan tangan, aku membaca:

Seperti apa rasanya tak ada?

Itu tulisan Nadja. Rapi, halus, tegak-sambung.

Aku menutup buku dengan perasaan ganjil. Aku mondar-mandir di gudang seperti seorang anak yang menyimpan rahasia besar. Atau seorang yang baru saja menemukan peta harta karun yang diburu banyak perompak barbar.

Malam harinya ketika Antoni tidur, aku meraih bawah bantal dan membawa Nadja ke dapur. Aku menjerang air dan menyeduh teh herbal. Dengan penerangan seadanya, aku membuka buku tersebut, mulai membacanya.

Hantu. Nadja menjadi hantu, di kepalaku.

Tidak cukup waktuku menyelesaikan malam ini. Tapi aku selalu punya waktu untuk menuntaskannya, menyelaminya, dan menemukan sebuah kebenaran. Mungkin jawaban yang tak pernah terpikirkan untuk kupertanyakan.

Aku bukan penulis layaknya Nadja yang mampu mengajak pembaca, khususnya aku, untuk tenggelam dalam kata dan emosinya––kuakui, ia membuat ceritanya bernyawa, gelap, mencekam, dan selama ini anggapan bahwa dirinya penulis gagal adalah kekonyolan sejati. Tapi, baiklah, kutunjukkan beberapa bagian saja dari jurnal ini.

***


Tentang Cahaya

Aku ingin melepas kepalaku. Di situ, di kepala itu, hantu-hantu gentayangan. Pesta yang tak berkesudahan.

Coba bayangkan saja kau berada di sebuah aula dengan dinding bewarna kelabu dan sejuk. Langit-langitnya begitu tinggi, julang, tak bisa digapai. Mungkin langit-langitnya adalah langit itu sendiri, tapi tidak pernah disentuh matahari. Satu-satunya cahaya adalah pendar-pendar dinding, pantul-memantul, seperti kemilau pisau. Kakimu telanjang dan nyilu oleh dinginnya lantai. Kau tidak tahu apakah itu es atau besi atau paduan keduanya. Satu-satunya reaksi yang tubuhmu berikan adalah gigil dan serah. Kau tidak bisa bergerak apalagi beranjak. Di tengah aula­­ itu, kau sendiri dengan ketakutan dan kecemasan yang begitu mencintaimu.

Suatu kali aula tadi melipat dan berubah menjadi gurun yang kelewat panas dan membuat kulitmu melepuh. Sisamu hanya napas yang satu-satu. Bahkan untuk menangis saja air matamu sudah menguap sebelum sempat jatuh.

Yang tak pernah berubah adalah kecemasan dan ketakutan itu sendiri. Sudah kukatakan: ia terlalu mencintaiku. Aku berbagi nyawa dengannya.

***


Tentang Ibu

Semua bermula dari suara.

Suara Ibu.

Bukan aula, bukan gurun, tapi kali ini sebuah ruangan yang begitu akrab dan hangat dalam ingatanku. Kenangan masa kecilku. Ruangan itu kamar Ibu, dengan kertas dinding bermotif gladiol, pastel, lembut, sesuai karakternya yang melankolis dan rapuh. Ada ranjang dengan kanopi yang mengingatku pada film-film kolosal Yunani. Di samping ranjang, ada meja rias. Di situ Ibu sekarang sedang duduk, tegak, mematung. Ia mengenakan gaun tidur satin berwarna lembayung. Aku bisa melihat pantulan wajah Ibu dari tempat aku berdiri, di tengah ruangan. Tapi Ibu tidak bisa melihatku. Kupelajari wajah Ibu yang teduh dan bulan.

Lengang.

Satu-satunya bunyi hanya samar gemeresik daun dan bunga yang dibelai angin dari luar. Di jendela berbentuk kubah, kulihat pohon bugenvil berdiri murung. Bunga-bunga kertasnya bewarna jingga pucat, gugur dan membedaki makam di bawahnya.

Dari tempatku berdiri, kusaksikan Ibu dengan tabung-tabung pil di tangannya. Dipelajari satu-satu tabung tadi, seolah memilih permen rasa apa untuk menceriakan suasana hatinya hari ini. Tangannya gemetar. Yang kuingat mengenai pil-pil itu adalah ucapan Ibu, suatu dulu. Kata Ibu, pil-pil itu terbuat dari cahaya. Ketika ditelan, ia menjelma asali cahaya itu sendiri. Tubuh Ibu yang gelap akan diterangkan, yang suram akan tercerahkan. “Tidak perlu takut, Nad,” kata Ibu pada Nadja kecil dengan nada menenangkan dan mengajarkan, “yang ditelan Ibu hanya cahaya, tak lebih dari itu. Ia tak meninggalkan jejak apa-apa selain terang dan lapang yang seketika.” Ibu suka melukis. Pada saat-saat tertentu, Ibu lupa di mana ia berpijak––dunia utopisnya, atau alam rilnya yang absurd dan penuh mendung.

Ibu tidur setelah menenggak cahaya-cahaya tadi. Aku bahkan bisa menghitung ritme napasnya. Satu-dua-satu-dua-naik-turun-naik-turun... sampai tak kudengar lagi irama tadi karena cahaya di tubuh Ibu mengusik perhatianku. Cahaya dari pil-pil tadi. Berdenyut, semakin terang, terang bercampur panas, silau, hingga meledak.

Ibu pecah, dan aku buta.

***


Tentang Unicorn

Ada alasan mengapa aku menamainya Unicorn. Meski jurnal ini dianjurkan untuk menyuarakan kebebasan dan keleluasaanku, tetap, aku ingin beberapa hal tetaplah sebuah rahasia. Termasuk kamu.

Katamu: Kau justru akan bebas ketika sudah meluapkan segalanya lewat tulisan dan meninggalkan pertanyaan tertentu bagi yang membacanya––kau seolah mempermainkan perasaan mereka, bukan perasaanmu, dan kau punya kuasa mengenai kebenaran sejatinya seperti apa.

Katamu, lagi: Jangan tekan pensil itu hingga runcingnya patah. Tahan, tulislah dengan anggun. Kebebasan menulis justru terasa ketika kau menahan rahasia untuk tetap tersembunyi dalam sebagian kata-kata.

Jika teori yang kaunyatakan benar dan dapat pengakuan oleh penulis-penulis lain, kuakui aku memang tak layak menjadi penulis. Dan barangkali itulah alasan mengapa aku adalah seorang pecundang dalam perihal naskah dan penolakannya.

Baiklah, aku keluar rel. Aku cuma membicarakan tentang Unicorn dalam bab ini.

Aku mencintai Unicorn-ku. Aku tak pernah punya perasaan sekuat ini kepada siapa pun sebelumnya. Lebih ke obsesi––atau kegilaan? Apakah seperti ini cinta? Jika iya, sungguh tidak sehat. Takut adalah temanku dalam malam-malam insomnia. Takut: takut kau kecelakaan dalam pergi dan pulang bekerja; takut kau sakit ketika harus bergelut dengan lembur dan kurang istirahat; takut ketika kau sedih dalam hal apa pun; dan ketakutanku yang sungguh paling adalah... takut kau menjadi milik orang lain. Aku tak sanggup membayangkan kau menyerahkan tubuhmu seperti senampan kurban di atas ranjang bertabur kering mawar pada sebuah malam jahanammu. Dan satu hal lagi: di usiaku kali ini, tidak ada waktu untuk bermonyet-monyetan soal cinta.

Sakitnya, kau sama sekali tak peduli pada perasaanku. Kau tahu aku menyukaimu. Kau tidak bodoh untuk mengartikan curi tatap ketika kita kedapatan satu ruangan dengan kesibukan masing-masing, atau salah tingkahku yang meski tak kentara saat berdekatan dan berdua bersamamu. Untuk yang terakhir itu, betapa seringnya karena selain rekan kerja, kau temanku di luar kerja––joging, ke bioskop, karaoke, baca dan membedah Tolstoy hingga mengulik soal musik klasik dalam karya-karya Murakami, berbagi ide tulisan, mendengar dan ngopi pada malam-malam suntuk dan penuh keluhan perkara deadline ini dan itu. Meski tak ada jawaban lugas untuk menegaskan batas hubungan kita, kau lebih menyukai peranmu sebagai temanku. Kita tahu sama tahu untuk itu. Hanya teman saja. Dalam satu obrolan kita di kedai kopi pada malam berhujan pukul 23.45––aku ingat, aku gelisah sehingga satu-satunya reaksiku hanya mengamati jam––kau menyinggung soal rencana pernikahanmu dengan seseorang yang tak pernah kau singgung pada siapa pun sebelumnya. Setelah pertemuan itu, aku selalu berfantasi soal kematian: seperti apa rasanya jatuh dari sepeda motor lalu ada truk melintas dan roda-rodanya memipihkan isi kepalaku?; bagaimana rasanya jatuh dari gedung mal dengan kepala lebih dahulu membentur aspal parkiran?; seperti apa rasa cairan pembersih lantai atau pengusir serangga di mulut? Ketika mengendarai mobil sepulang kerja, aku membayangkan menabrak beringin raksasa di salah satu sisi jalan menuju rumah dan tuntaslah perkara duniaku di situ.

Unicorn. Kau tak menawarkan racun lewat tanduk ajaibmu itu, malah menusukkan racun di tubuhku untuk jangka panjang. Barangkali kekal.

***


Tentang Luka

Namaku Nadja Suman. Kata ayah, aku adalah separuh luka milik ibuku. Ibu menciptakanku untuk menitipkan penderitaannya. Betapa aku ingin sekali menolak percaya omongan bedebah itu.

Aku dibesarkan oleh seorang Ibu yang kata banyak orang: rusak. Ibu adalah manusia yang hancur dan gagal dalam banyak hal. Tapi Ibu mencintaiku sedemikian dalam dan luas. Ia adalah laut. Dalam dan misterius. Ia akan menyimpan tenang yang tak terperi pada musimnya. Ia menyimpan palung yang tak bisa dijamah selain dirinya sendiri. Ia juga menyimpan tsunami ketika kedalamannya retak dan lantak. Meski begitu, laut selalu menelan kembali amuk ombaknya sendiri.

Ibu senang melukis. Ia mengagumi Salvador Dali. Lukisannya sulit kubaca, yang katanya adalah kombinasi mimpi dan realitas peliknya. Aku terlalu anak-anak untuk memahami maksudnya berkaitan dengan alam surealisme, Renaissance, kubisme, dadaisme, dan semacamnya. Ibu senang menyendiri di beranda belakang yang disulapnya menjadi studio dengan kanvas dan perlengkapan lukisnya, asbak rokok yang sesak oleh puntungnya, dengan lamunannya yang dingin dan membekukan sembari menatap hutan jati jauh di luar batas lahannya. Ia melarangku masuk ketika sedang kepayang pada pola dan warna.

Kami tinggal berdua di sebuah rumah yang dikelilingi pohon-pohon bugenvil. Ketika musim bunga, rumah kami seakan tenggelam dalam lautan bunga kertas. Banyak warna, sampai malas kusebutkan di sini. Di halaman samping, ada makam kakek tanpa penanda apa-apa selain peringatan dari Ibu, tepat di bawah pohon bugenvil berwana jingga pucat. Kata Ibu, “Kematiannya tidak diterima oleh siapa pun di lingkungan ini. Ia ateis, dan menurut banyak orang, ateis sama dengan komunis, dan komunis adalah najis yang harus dilenyapkan.” Selain istilah lukisan, Ibu banyak mengajarkan hal-hal asing dan serius untuk usiaku yang hanya tahu bagaimana cara menyimak tanpa menginterupsi, apalagi banyak tanya.

Ibu adalah laut. Pelan tapi pasti, ia menyeretku masuk menuju kedalamannya dengan biru yang terlampau. Sampai di mana dasarnya hingga yang kulihat hanya sebuah pekat? Di mana sembunyinya cahaya-cahaya yang selalu ditelannya itu?

“Hanya ada hantu-hantu,” katanya serius. Dari Ibu, aku belajar hidup adalah rangkaian alegori. Ibu pula yang mengenalkanku pada hantu-hantu, pada suara. Pada usia sepuluh tahun, aku sudah terlatih untuk mencerna hal-hal pelik dan gelap.

"Kau harus ikut ayahmu, Nad.” Kedua tangan Ibu mengelus-elus lenganku. Ia mengajakku memasuki studionya. “Tinggalkan tempat ini. Kau harus bahagia dan hidup seperti orang di luar sana.” Mata Ibu berkaca. Itu terjadi siang hari ketika malamnya Ibu menelan banyak pil dan sudah tiada keesokan harinya. Kuperhatikan kanvas masih kosong. Beberapa hari sebelumnya, kuperhatikan Ibu murung dan pendiam. Sesekali, kudengar ia menjerit dan melolong dalam studionya. Lewat lubang kunci, kulihat ia mematah-matahkan kuas dan koyakan kanvas berserakan di lantai yang penuh noda cat. Hantu-hantu itu menyerangnya dengan amat brutal. Di sela tangisnya di meja makan, Ibu bicara tiba-tiba, serak, “Aku tidak bisa melukis. Aku tidak bisa melukis. Aku bisa gila. Bisa gila.” Aku tahu ia tak bicara padaku. Kata-kata seperti mekar bukan dari bibirnya, tapi dari dalam tubuhnya. Aku hanya bisa membayangkan sebuah kereta melaju dengan kecepatan konstan dan penuh, dan tahu bahwa di hadapannya hanya ada tembok dan buntu.

Setelah Ibu meninggal, aku ikut Ayah. Dari Kota P yang penuh kenangan, aku tinggal di Kota S yang kata Ibu, penuh harapan dan orang-orang sehat. Tinggal dengan Ayah, aku justru mempelajari riwayat Ibu lewat rindu terpendam dan rasa sia-sia yang tak terjelaskan. Aku tahu, Ayah adalah sumber frustasi Ibu––ia meninggalkan Ibu ketika usiaku dua tahun. Riwayat Ibu juga kudapat dari penjelasan Ayah yang sepertinya tanpa ampun dan penuh dendam, memberitahuku siapa Ibu sebenarnya. Perempuan sinting dan penuh kegelapan, tiga tahun dengannya seperti hidup dengan siluman, ejek Ayah. Ayah menambahkan di lain waktu: Ia tidak bisa mati begitu saja tanpa mewarisi rasa sakit dan gilanya untuk satu-satunya kamu yang dimilikinya. Ayah harap masih belum terlambat menyembuhkanmu. Sejak itu, aku membenci Ayah—apalagi saat ia membanding-bandingkan Ibu dengan wanita lain yang sulit rasanya kupanggil Ibu. Semakin Ayah menggerutui dan mengumpat Ibu, semakin erat kepal tanganku menahan geram dan marah. Aku membencinya tanpa syarat. Di Kota S, aku menjalankan hari-hariku bagaimana seorang munafik selalu tampak baik dan baik-baik saja.

Ibu meletakkan hantu-hantu dalam diriku. Mereka bermukim di dada dan kepalaku. Seandainya Ayah tahu itu...

***


Tentang Kutukan

Kata mereka, aku punya segalanya. Aku punya rumah yang nyaman yang kubeli cicil dengan penghasilanku sebagai dosen sastra. Rumah itu terletak di kawasan sepi dipenuhi pohon-pohon kayuputih dan pakis-pakisan. Rumah mungil, satu kamar, sebuah dapur yang kudekor ala-ala pondok di pedesaan Inggris. Dapur itu merangkap ruang kerjaku, menulis dan membaca. Ayah memaksaku menerima pemberian mobilnya sebagai hadiah diterimanya aku sebagai dosen di perguruan tinggi almamaternya dulu. Pendeknya, aku lebih dari cukup dalam hal karir dan finansial.

Mereka tahu namaku tapi tidak dengan siapa aku.

Mereka tidak tahu malam-malamku diisi oleh cemas dan takut. Mereka tidak tahu rasa kosong dan suntuk yang kerap menyerangku, mengurungku, menderaku tak kenal ampun. Di kelas, aku berdiri di hadapan mahasiswa dan menjelaskan mengenai pendekatan psikologi hingga aliran nihilisme dalam karya sastra, sementara beberapa jam sebelumnya aku menjelma binatang nokturnal demi berperang melawan pikiran dan perasaanku dalam medan insomnia. Di balik biasa-biasa––atau mewahnya aku, barangkali––mereka tidak tahu betapa terpuruknya aku di balik pintu rumahku yang terkunci.

Sebagaimana Ibu, aku butuh cahaya-cahaya bersemayam dalam tubuhku.

Setiap kali aku melihat Unicorn dan selalu menghindarinya, membuatku menyimpan dan menabung rasa perih yang kelak kujamu ketika sendiri. Entah mengapa aku tak bisa berdamai dengan yang satu ini. Di samping itu, aku punya kecenderungan menarik diriku dari pergaulan orang-orang sekitarku. Aku punya dunia sendiri yang tidak terkoneksi dengan dunia mereka. Mereka adalah orang-orang yang merasa hangat dan nyaman berteduh di bawah payung norma; memiliki kesatuan pandangan mengenai konsep dan standar bahagia; setiap kali membahas suami, anak, makan malam, rencana weekend keluarga; mereka orang-orang lurus. Aku asing. Aku bayang-bayang yang selalu mematung di sudut dengan tugas sebagai penyimak. Ketika suatu kali aku mendengar seorang dari mereka memberi tips mencuci pakaian putih, aku merasa diriku adalah pakaian berwarna yang mesti direndam terpisah, sendiri. Aku pun teringat dan membayangkan menjadi Kakek yang disisihkan lantas dilenyapkan oleh sistem.

Aku tersesat. Sendiri.

Aku bermimpi, Ibu memanggilku dari rumah kami di masa lalu.

Dengan beragam pertimbangan, keputusan berat pun kubuat: mengundurkan diri dari pekerjaan dan pindah ke Kota P. Aku menempati rumah Ibu. Keputusan yang amat disayangkan Ayah. Ia marah. Aku tak peduli.

Di Kota P, aku bertekad memperbaiki diri. Aku atur janji dengan psikiater, melakukan beberapa terapi, dan mengisi waktu-waktuku dengan kegiatan positif. Olahraga dan gabung di klub membaca dan komunitas sastra––upaya untuk membuka diri, dimulai dengan orang-orang yang mempunyai minat dan antusias pada hal yang sama. Aku mulai kembali menulis sebagai pelarian dan katarsis. Aku melamar pekerjaan sebagai dosen freelance di perguruan tinggi swasta dan diterima dan mulai menjalin hubungan diam-diam dengan mahasiswaku. Hanya tak lebih dari teman tidur dan seks, pikirku, sebab, sesekali aku tak tahan juga orgasme sembari membayangkan jari-jari Unicorn menjelajahi tubuhku––estrogen dan progesteron memang akan menjadi semacam bangsat pada waktu-waktu tertentu.

Katakanlah hidupku teratur dan terencana.

Tapi lagi-lagi, ada bagian diriku yang merasa hampa.

Sempat aku berpikir: ini bukan sindrom atau penyakit, tapi kutukan.

***


 Tentang Lilin

Selamat ulang tahun, aku menyelamati diriku sendiri dengan miris dan sarkastis. Usiaku 30 tahun. Selamat menjadi perawan tua. Hahahaha.

Di hari jadi itu, aku membayangkan sepasang lilin melumer. Lidah api berkeliuk di atasnya. Sepasang lilin tadi berdiri sombong di atas keik yang sudah dihiasi krem sedemikian manis dan cantik. Aku membayangkan keik tadi dibawa oleh Ibu dari dapur. Kakek menyanyikan panjang-umurnya dan memanjatkan doa––oh, bukankah Kakek seorang ateis?

“Selamat menua, Sayang. Sudah tahu apa yang kamu cari?” tanyaku lirih pada sosok yang tampak lesu dan muram, di cermin.

***


Seperti apa rasanya tak ada?

***

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Orang-orang Kita

Minggu, 17 Mei 2020 | 08:30 WIB

Sintang Dua Puluh Empat Jam

Minggu, 3 Mei 2020 | 07:21 WIB

PAP

Minggu, 26 April 2020 | 07:00 WIB

Danau Setengah Babi

Minggu, 19 April 2020 | 07:00 WIB

Mencari Tepung

Minggu, 29 Maret 2020 | 06:10 WIB

Perjalanan di Luar Angkasa

Minggu, 8 Maret 2020 | 15:22 WIB

Kopi Pagi dan Cinta yang Hilang

Minggu, 16 Februari 2020 | 11:34 WIB

Geger di Dukuh Alas Sengon

Minggu, 9 Februari 2020 | 11:41 WIB

Cerita Pak Tua

Minggu, 2 Februari 2020 | 10:33 WIB

Nadja

Minggu, 26 Januari 2020 | 13:26 WIB
X